3 Jenis Tingkatan Ibadah Puasa Menurut Imam Al-Ghazali
Terlaris Minggu Ini
tasbih-penangkal-santet.jpg

Tasbih Penangkal Santet

Harga:Rp 680.000,-
New Page 1

Hubungi Kami

 

Pesantren Online

Alfalah Darussalam

Akta Notaris No 35 Tgl 14 Oktober 2008, Ijin Operasional No. KD.11.20/5.A/PP.00/2515/08

Alamat:

Jl. Raya Jepara Semarang Km 21, Sidigede 15/03, Welahan, Jepara, 59464, Semarang, Jawa Tengah

 

KONSULTASI

Customer Service I
(Mh.Shodiq)

Telp/SMS :

089 680 708 282

081 328 131 411

Whatsapp :

089 680 708 282

Line :

089 680 708 282

BB Messenger : D4A6D2FA

Email : membukabatin@gmail.com

Customer Service II
(Mutia)

Telp/SMS :

089 668 981 114

085 784 305 056

Whatsapp :

089 668 981 114

Line :

089 668 981 114

BB Messenger : D42902C8

Email : membukabatin@gmail.com

JAM KERJA

 

Senin - Sabtu,

Pukul: 08.00 - 16.00 WIB

Diluar jam kerja hanya melayani SMS, BBM & Whatsapp

 

3 Jenis Tingkatan Ibadah Puasa Menurut Imam Al-Ghazali

Artikel Penting » Pengasihan, Dll » 3 Jenis Tingkatan Ibadah Puasa Menurut Imam Al-Ghazali

7 jenis puasa sunat, jenis jenis berpuasa, jenis puasa kejawen, macam macam puasa sunnah dan niatnya, macam macam puasa dalam islam, jenis jenis puasa sunnah, macam macam puasa sunnah dan pengertiannya, macam macam puasa wajibPada bulan suci Ramadan ini kita dituntut untuk merauk pahala dengan sebanyak-banyaknya sebagai bekal kita di akhirat nanti. Tentu bulan ini tidak boleh dilewatkan dengan begitu saja. Banyak kaum muslim yang berlomba-lomba meningkatkan amal sholeh di bulan puasa seperti saling membantu kepada orang yang membutuhkan, menyantuni anak yatim, tadarus Al-Quran, dan ibadah sunnah lainnya yang mereka sudah anggap seperti wajib.

Telah kita ketahui bahwa bulan puasa memiliki keistimewaan lain dari bulan-bulan sebelumnya. Ia sangat bersifat rahasia. Tidak ada yang mengetahui kelangsungan puasa seseorang, kecuali pelakunya dan Allah SWT.

Kendati demikian, ada orang yang terlihat makan sahur dan buka puasa bareng kita, itupun bukan berarti jaminan bahwa dia telah berpuasa seharian penuh. Bisa saja di waktu siang dia makan tanpa sepengetahuan orang lain.

Untuk itu, disini puasa dikatakan amanah. Sebuah amanah haruslah dilangsungkan dan dikerjakan dengan sungguh-sungguh tanpa ada beban di dalamnya. Terlebih lagi yang memberi amanah itu adalah Sang Maha Pencipta. Pemberian tanggung jawab puasa ini tentu bukan tanpa maksud. Ada banyak hikmah puasa dan rahasia di dalamnya yang belum diketahui.

Jenis Tingkatan Puasa Dan Tunjuannya Itu Sendiri

Tidak semua orang mengerti tujuan hakikat dari menjalankan ibadah puasa. Maka tak heran bila ada yang sedang berpuasa, tetapi dia tidak mengerti dan menerima dampak positif dari ibadah yang dilakukannya.

Maka daripada itu, Seorang ulama besar imam Al-Ghazali dalam kitabnya “Ihya Ulumuddin” menjelaskan jenis puasa itu sendiri. Beliau membagi tiga tingkatan puasa sebagai berikut :

إعلم أن الصوم ثلاث درجات صوم العموم وصوم الخصوص وصوم خصوص الخصوص: وأما صوم العموم فهو كف البطن والفرج عن قضاء الشهوة كما سبق تفصيله، وأما صوم الخصوص فهو كف السمع والبصر واللسان واليد والرجل وسائر الجوارح عن الآثام، وأما صوم خصوص الخصوص فصوم القلب عن الهضم الدنية والأفكار الدنيوية وكفه عما سوى الله عز وجل بالكلية ويحصل الفطر في هذا الصوم بالفكر فيما سوى الله عز وجل واليوم الآخر

Artinya, “Ketahuilah bahwa puasa ada tiga tingkatan yaitu ; puasa umum, puasa khusus, dan puasa paling khusus. Yang dimaksud puasa umum ialah menahan perut dan kemaluan dari memenuhi kebutuhan syahwat. Puasa khusus ialah menahan telinga, pendengaran, lidah, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari dosa. Sementara puasa paling khusus adalah menahan hati agar tidak mendekati kehinaan, memikirkan dunia, dan memikirkan selain Allah SWT. Untuk puasa yang ketiga ini (shaumu khususil khusus) disebut batal bila terlintar dalam hati pikiran selain Allah SWT dan hari akhir.”

Ke-3 tingkatan tersebut disusun berdasarkan sifat orang yang mengerjakan puasa. Ada orang puasa hanya sekadar menahan diri dari nafsu makan dan minum, tetapi perbuatan maksiat tetap saja dilakukannya. Inilah puasa bagi orang awam. Pada umumnya, mereka mendefenisikan puasa sebatas hanya menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa secara dzahiriyah (luarnya saja).

Tentu hal tersebut sangat berbeda dengan tingkatan kedua, yaitu “puasanya orang-orang shaleh”. Mereka lebih maju dan jauh dibandingkan orang awam pada umumnya. Sebab mereka paham betul bahwa puasa tidak hanya menahan lapar dan haus saja, tetapi juga menahan diri dari melakukan dosa.

Percuma kan kalo berpuasa namun masih terus melakukan maksiat sana-sini? Karenanya, kelompok ini menilai maksiat menjadi sebuah faktor yang membatalkan puasa.

Berikutnya tingkatan yang terakhir adalah “puasa paling khusus”. Puasa model ini hanya dikerjakan oleh orang-orang tertentu. Hanya sedikit orang yang sampai pada taraf ini. Pasalnya, selain menahan lapar dan haus dan menahan diri untuk tidak bermaksiat, mereka juga  memfokuskan pikirannya untuk selalu mengingat Allah SWT (Dzikrullah). Bahkan, pikiran selain Allah SWT dan pikiran terhadap dunia dianggap merusak dan bisa membatalkan puasa.

Dari beberapa tingkatan yang sudah disebutkan tadi, tentu kita mengetahui bahwa ibadah puasa merupakan kesempatan terbesar bagi hambaNya untuk melatih diri kita supaya lebih baik dari sebelumnya. Semoga puasa kita tidak bersifat menjalankan ibadah tidak hanya formalitas belaka, namun juga bermanfaat dan berdampak positif bagi diri kita dan orang lain. Amin.

Apabila Anda ingin lebih khusyu' dalam menjalankan ibadah puasa serta ingin selalu lebih dekat dengan Alllah SWT agar menjadi hamba berkualitas boleh Anda kunjungi HALAMAN INI

CUSTOMER SERVICE

Customer Service I (Mh.Shodiq)

Telp / SMS:

089 680 708 282 / 081 328 131 411

WA / Line :

089 680 708 282

BB Mesengger

D4A6D2FA

Customer Service II (Mutia)

Telp / SMS:

089 668 981 114 / 085 784 305 056

WA / Line :

089 668 981 114

BB Mesengger

D42902C8